Selasa, 16 Agustus 2016

Merasakan Nikmat Memek Tante

Kujawab singkat, OK! lalu kembali aku menonton McGyver kesayanganku. Walaupun mataku tertuju ke pesawat televisi, tapi aku dapat melihat jelas betapa dia santainya membongkar baju seragam belajar dari kampusnya, jantungku berdebar keras. Lisa cuma menyisakan BH mempunyai warna hitam dan celana dalam hitam. Dia melakukan gerakan seolah sedang melacak pakaian di tumpukan bajunya yang tersusun rapih di dalam lemari.

Aku tidak bisa mendapatkan baju baruku, kemana ya? Aku cuma terdiam pura-pura menonton TV, tapi pikiranku tertuju pada belahan pantat yang cuma tertutup kain tipis. Sesekali dia memutarbalikkan tubuhnya sehingga aku bisa melihat 2 buah benda yang menggunung di balik BH-nya. selanjutnya dia mengenakan gaun tidur mempunyai warna pink yang amat tipis, Lalu dia mengnyarisiku, dan kami berdua duduk bertemu. 

Waktu itu aku tetap kelas dua, di salah satu SMA Negeri di Bandung. Aku terhitung salah satu siswa  segudang kegiatan. Dari mulai aktif di OSiS, musik, olah raga, hingga aktif dalam hal bertukar-ganti pacar.
Tapi satu hal yang belum pernah kulakukan waktu itu jalinan alat vital seringkali aku berkhayal sedang terkait badan salah satu wanita yang pernah menjadi pacarku. Tapi aku tak mempunyai keberanian untuk memohon, mengajak maupun melakukan itu.
Mungkin disebabkan cerita sahabatku yang terpaksa menikah disebabkan telah menghamili pacarnya dan sekarang hidupnya hancur lebur. itu mungkin yang bikin kutakut, setengah mati. Tapi aku suka rasa takut itu, bukankah rasa takut itu yang bisa menjauhkan aku dari kelakuan dosa.
Suatu waktu, datang gerombolan guru praktek dari iKiP Bandung yang akan mengganti guru kami untuk beberapa minggu. Salah satu dari guru praktek itu mempunyai nama Lisa. Dia seperti itu cantik, ah bukan… bukan cantik… tapi dia sempurna. hiraukan setan matematika yang diberi ajarannya, aku cuma ingin nikmati mukanya, memeluk tubuhnya yang tinggi semampai, mengecup bibirnya, dan… aku pun berkhayal amat jauh, tapi seluruh itu tak mungkin. pacarku yang seumur ku saja, aku tidak berani, bahkan Lisa.
Singkat cerita, aku melesat motorku. Hari sudah sore aku harus cepat hingga di Tempat Tinggal. Dalam ekspedisi kulihat ibu Lisa. Aku memberanikan diri mengnyarisinya. sesudah sedikit berbasa-basi dia mengisahkan bahwa dirinya baru saja pindah kost dan tempat kost yang sekarang mempunyai letak tepat di tengah-tengah antara sekolahku Tempat Tinggalnya.
Sehingga setiap sore aku mengantarkannya ke tempat kost-nya. Kejadian itu diadakan setiap hari selama satu minggu lebih. Kami berdua mulai akrab, bahkan kedepannya terlalu akrab.
layaknya umumnya, aku mengantarkan ibu Lisa pulang ke kost-nya. Anehnya waktu itu, dia tidak mau langsung pulang tapi mengajakku jalan-jalan di pertokoan di wilayah Alun-Alun Bandung. sesudah puas kami pun pulang menuju ke kost ibu Lisa. Dan pada waktu itu kupamit ibu Lisa memegang tanganku dan…
Jangan dulu pulang, dong! ibu Lisa menahanku, tapi memang inilah yang selama ini kuharapkan.
Udah malam Bu, takut entar dimarahi… Perkataanku terhenti melihat dia menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya yang kecil.
Jangan panggil aku ibu Lisa, coba tebak berapa umurku? terbukti umurnya terpaut 5 tahun umurku yang waktu itu 17 tahun.
Panggil aku Lisa. Aku cuma membuat ganguankkan kepalaku.
Sini yuk, aku punya baju baru yang akan aku pamerkan padamu.
Ditariknya tanganku menuju kamarnya, jantungku mulai lakukan detakan kencang.
Sehingganya di kamar, dia menyuruhku duduk di depan televisi yang menunjukkan pahlawan kesayanganku, McGyver. Lisa lantas mengnyarisi lemari pakaian disamping televisi.
Aku punya tiga buah baju baru, coba kamu nilai mana yang paling bagus.
Kujawab singkat, OK! lalu kembali aku menonton McGyver kesayanganku. Walaupun mataku tertuju ke pesawat televisi, tapi aku dapat melihat jelas betapa dia santainya membongkar baju seragam belajar dari kampusnya, jantungku berdebar keras. Lisa cuma menyisakan BH mempunyai warna hitam dan celana dalam hitam. Dia melakukan gerakan seolah sedang melacak pakaian di tumpukan bajunya yang tersusun rapih di dalam lemari.
Aku tidak bisa mendapatkan baju baruku, kemana ya? Aku cuma terdiam pura-pura menonton TV, tapi pikiranku tertuju pada belahan pantat yang cuma tertutup kain tipis. Sesekali dia memutarbalikkan tubuhnya sehingga aku bisa melihat 2 buah benda yang menggunung di balik BH-nya. selanjutnya dia mengenakan gaun tidur mempunyai warna pink yang amat tipis, Lalu dia mengnyarisiku, dan kami berdua duduk bertemu.
Kamu mengapa, kok pucat, aku terdiam.
Kamu takut ya? Aku tetap terdiam.
Aku tau kamu suka aku. Aku terdiam.
Hey, ngomong dong. Aku tetap terdiam
Dalam kediamanku selama itu aku menaruh sesuatu di dadaku yang lakukan detakan amat kencang dan keras serasa ingin meledak pada waktu itu dia menempelkan bibir mungilnya ke bibirku. Dia melumat bibirku, sedikit buas tapi mesra. Aku mulai memberanikan diri untuk membalasnya. Kugerakkan bibirku dan kulumat kembali bibirnya. Tak lama lantas, telapak tangan lisa yang hangat menggapai pergelangan tanganku.
Dibawanya tanganku ke arah buah dwujudnya. Jantungku waktu itu amat tidak karuan. Kuremas buah dwujudnya yang tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil, tapi aku dapat merasakan betapa kencangnya ke-2 gunung surga itu. Lidah kami pun mulai bermain.
Datang-Datang dia menyorongku, terus menyorongku sehingga aku telentang diatas karpet kamarnya. Aku cuma berbasickan dan tak bergerak. Lisa membongkar baju tidurnya yang tipis. kini dia tidak tidak melakukan suatu gerakan atau diam pada waktu itu cuma BH dan CD-nya saja yang melekat di tubuhnya, tapi BH-nya lantas terjatuh ke karpet. Belum sempat aku bergerak, Lisa menerjunkan tubuhnya diatas tubuhku, buah dwujudnya yang amat keras menindih dadaku.
Kamu suka, ya? aku membuat ganguank. Aku tak kuasa menahan diri, pada waktu itu aku mengangkat kepalaku untuk melumat bibirnya kembali, dia menahan kepalaku, aku heran. Ke.. ke… mengapa Lis? kataku terbata-bata. Dia cuma tersenyum, lalu santainya dia memanjat turun tubuhku. Aku cuma terdiam, aku tidak berani bergerak.
Aku bagaikan seorang Tentara yang cuma bergerak berbasickan komando dari Lisa. Dia mulai lakukan belaani pahaku dan sedikit mempermainkan selangkanganku. Sesekali dia mengecupi celana seragam abu-abuku tepat pada bagian batang kejantananku. Aku memejamkan mata, aku pasrah, Aku… aku… ah…!
Aku membiarkannya, pada waktu itu Lisa mulai membongkar celana seragamku, dimulai dari ikat pinggangku dan berlanjut menyingkapkan CD-ku. Dia menggapai batang alat vitalku mesranya.
Ah… crot… crot… crot…! Aku tak kuasa menahan diriku pada waktu itu bibirnya yang mungil menyentuh kepala alat vitalku. Aku malu, malu setengah mati.
Tenang, itu biasa kok.
Senyumnya bikin rasa maluku hilang, senyum dari muka sang bidadari itu bikin keberanianku nampak, Ya aku berani, aku nekat!
Aku menarik kepalanya dan memutarbalikkan tubuhku, sehingga aku berada tepat diatasnya. Dia sedikit kaget, tapi perihal tersebut bikin aku suka dan makin berani. Aku berpindah tempat ke bawah, kubuka CD-nya. waktu itu yang ada dipikiranku cuma satu, aku harus mencontoh film-film biru yang pernah kutonton.
Kamu mulai nakal, ya.
ibu guru tidak suka.
Aku tak memperdulikan candanya. Kuturunkan CD-nya perlahan, kulihat sekilas rumput kecil yang membuat supaya tidak nampak celah surganya. Sepada waktu itu kucumbu dan kumainkan lidahku di celah surga itu. Tangan kananku terus menarik CD-nya hingga ke ujung kakinya dan kulempar entah jatuh di mana. Aku membuat jadi tidak berjalan atau diam sebentar permainan lidahku, kuangkat pinggul yang indah itu dan kugendong dia menuju ke tempat tidur yang terletak tepat dibelakang kami berdua.
Kuletakkan tubuh semampai tinggi 173cm itu tepat di pinggir tempat tidur. Aku lantas berjongkok, dan kembali memainkan lidahku di sekitar celah surganya, bahkan aku berhasil mendapatkan batu kecil diantara celah itu yang setiap kutempelkan lidahku dia senantiasa membuat erangan, melakukan desahan, bahkan berteriak kecil.
Tangan kiriku ikut bermain lidahku, dan tangan kananku melakuakan pembersihan sisa air mani yang baru saja keluar. Wow… batang kejantananku sudah keras lagi. pada waktu itu aku sedang asyik bermain di celah surganya, dia menarik kepalaku. Buka celana kamu, semuanya…! Aku berbasickan dan kembali menindih tubuhnya.
sesudah kepala kami berdekatan dia mengecup bibirku sekali dan lantas dia tersenyum, cuma waktu itu matanya sudah sayu, tidak lagi bulat penuh sinar yang amat menyilaukan.
Dia mengangkat kepalanya disertai tangan kananya menggapai batangku dan membidikkannya ke lubang alat vitalnya. Tapi pada waktu itu batangku menyentuh bibir lubang alat vitalnya, Crot… cret… creeett…! Kembali aku menggapai puncakku, dia pun tersenyum. cuma waktu itu aku tidak lagi malu, yang ada dipikiranku cumalah aku ingin bisa menyenangkannya sebelum orgasmeku yang ke-3.
Aku heran sesudah orgasme yang pertama ini batang kejantananku tidak lagi lemas, kubiarkan Lisa mengocok-ngocok batanganku, cuma melihat garis muka milik sang bidadari di depanku serta juga lakukan belaani rambutnya yang hitam legam, aku kembali bernafsu.
Pelan-pelan aja tidak usah takut. Dia berbisik dan tersenyum padaku. Tak karuan perasaanku waktu itu, bahkan pada waktu itu kepala alat vitalku dioles-oleskannya ke bibir alat vitalnya. Tangannya yang kecil mungil itu selanjutnya menarik batang alat vitalku dan melakukan bimbingan terhadap dirinya untuk memasuki lubang kewanitaannya.
Bles… sss… sek! Batangku sudah seratus persen tertanam di lubang surganya. Rasa percaya diriku semakin meningkat pada waktu itu aku menyadari bahwa aku tidak lagi alami orgasme. Aku mulai menarik pinggulku sehingga alat vitalku tertarik keluar dan membenamkannya lagi, terus menerus berulang. Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk seperti itu seterusnya.
Oh Dig…! Dia mulai memanggil nama akrabku, aku dipanggil Jedig oleh sahabat-sahabatku. Selama ini Lisa cuma memanggil nama asliku layaknya yang tertera di dalam absen kelasku. Dig, terus… kamu mulai pandai… Aku tak hiraukan, aku terus bergerak naik turun.
Aku merasakan batang alat vitalku yang basah oleh cairan dari lubang surga milik Lisa. Naik dan turun cuma itu yang kulakukan. Sesekali aku mengecup bibirnya, sesekali tanganku mempermainkan bibir dan buah dwujudnya.
Ah… ah… ah, ah… oh! Nafasnya memburu.
Ah Dig… ah… ah… ooowww! Dia berteriak kecil, matanya sedikit melotot dan lantas dia kembali tersenyum. Aku terdiam sebentar, aku heran mengapa dia melakukan itu. Yang kuingat, waktu itu batang alat vitalku serasa disiram oleh cairan hangat pada waktu itu tetap ada di dalam lubang alat vitalnya. Ntar dulu ya Jedig Sayang. Dia mengangkat tubuhnya sehingga alat vitalku terlepas, aku menahan tubuhnya.
Aku tak ingin alat vitalku terlepas aku tetap ingin terus bermain. Eit… sabar dong, kita belum selesai kok. Kulihat dirinya memutar tubuhnya lantas nungging di depan mataku. Aku amat mengerti apa yang harus kulakukan, ya… layaknya di film-film itu.
Aku mendekatinya batang alat vitalku yang sudah siap menghunus lubang alat vitalnya. Aku mencari jalan memasukannya, tapi saya alami kesusahan. Satu, dua, ya 2 x 1 aku gagal memasukan batangku. selanjutnya dia memakai tangan mungilnya untuk membimbing batangku. Blesss… Batangku masuk perlahan. tidak sama juga tadi, sekarang aku tidak lagi naik turun tetapi maju mundur. Kami berdua melakukan desahan. Nafas kami saling memburu.
Terus dan terus lagi. Ah… oh… uh… terus Dig…, ah… oooww! Kembali dia berteriak kecil, sekarang ini aku mengerti, setiap kali dia berteriak pasti lantas dia merubah posisinya. ceritadewasaigo.com Benar saja posisi kami kembali layaknya posisi awal. Dia telentang di bawah dan aku menindihnya diatas. Aku tidak lagi membutuhkan tangan mungilnya untuk melakukan bimbingan terhadap diriku. Aku sudah bisa memasukan batang alat vitalku sendiri tepat menuju lubang surga yang sesekali beraroma harum bunga itu.
Kembali aku melakukan naik dan turun. kini aku menjadi siswa yang betul-betul aktif, bukan sekedar di sekolah tapi di ranjang. Kuangkat kaki kanannya, kujilati betisnya yang tanpa cacat itu sembari terus menggerakan pinggulku.
Beberapa waktu lantas, aku merasakan darahku mengalir keras, ada sesuatu di dalam tubuhku yang siap untuk meledak. Gerakanku semakin kencang, cepat, dan tidak teratur.
Terus Dig, lebih cepat lagi… terus lebih cepat lagi Dig, terus.
Gerakanku semakin cepat. Kami berdua sudah layaknya kuda liar yang saling kejar-mengejar sehingga terdengar nada/suara nafas yang keras dan saling sambut memapak.
Terus Dig, terus… ah… uh… oh…!
Oban sayang… ah… dig… dig… dig… aaoowww!
sekarang ini teriakannya amat keras dan kulihat matanya sedikit melotot dan giginya terkatup amat keras. lantas dia terjatuh.
Dig cepetan ya sayang…!
Aku capek.
Aku tidak dapat tidak melakukan suatu gerakan atau diam menggerakan tubuhku, layaknyanya ada suatu kemampuan yang menyorong dan menarik pinggulku.
Ah… oh… Ufff… aaah…!
Crot… cret… cret…!
Muncratlah air kesenangan itu dari tubuhku. Aku terjatuh disampingnya, aku puas! Dia tersenyum padaku dan memelukku, dia menaruh kepalanya di dadaku. sesudah mengecup bibirku kami berdua pun tertidur pulas.
Beberapa bulan sesudah percintaanku ibu Lisa… Perpisahaan pun diawali, sesudah aku memainkan beberapa lagu di panggung perpisahaan untuk menerangkan suatu isyarat berselanjutnya masa kerja praktek mahasiswa-mahasiswa iKiP di sekolahku. Kulihat mereka menaiki bus bercatatkan iKiP di pinggirnya. Aku melacak Lisa, bidadari yang merenggut keperjakaanku.
Lisa… hey…! Lisa melihat dan matanya melotot.
Ups… ibu Lisa! Aku lupa, dia kan guruku.
hingga ketemu lagi ya, jangan lupa belajar! sembari menaiki tangga bus dia memberikan surat padaku. Aku langsung membaca dan tak mengerti apa maksud dari catatan itu.
selanjutnya bus itu pergi dan waktu itulah waktu paling akhir aku melihatnya. Aku tak lagi pernah lupa walaupun cuma sekali aku membuatnya Lisa. Tapi itu amat bereks. Aku senantiasa merindukannya.
Bahkan aku senantiasa berkhayal aku ada di dekat dia setiap aku dekat wanita. Sekarang pada waktu itu aku sudah duduk di bangku belajar dari kampus aku baru mengerti apa arti dari surat Lisa.


from cerita sex indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar