Selasa, 16 Agustus 2016

Kucabuli Memek Cewek Penjaga Warnet

Namaku Rio, séorang doktér di sébuah rumah sakit di Jakarta Sélatan, kisah yang akan kucéritakan ini térjadi saat aku masih bértunangan déngan istriku sékarang ini, dan térjadi bérawal dari hal yang sama sékali tidak térduga sédikitpun oléhku.

Bulan Fébruary 2001 lalu aku méngantarkan kawanku Rudy ké béngkél Toyota di Jakarta. Saat tiba di béngkél, sudah banyak mobil yang antri ménunggu giliran.

Rudy térsényum képadaku dan bilang,
“Sorry Yo.., kayaknya loé musti nungguin lama juga nih..”
Bréngsék juga nih pikirku, biar tidak bosan, aku pérgi ké warnét di dékat situ, pérsisnya di sébélah Soto Kudus, pérsis dépan Danar Hadi.
Aku masuk, disambut oléh séorang céwék yang térnyata adalah yang bértugas ménjaga warnét térsébut. Mulanya aku tidak bégitu mémpérhatikannya, bérhubung hatiku lagi késal sékali sama ulah si Rudy tadi. Tapi kétika aku mulai méng-klik mousé dan sédang ménunggu connéct-nya intérnét, baru aku pérhatikan bahwa céwék pénjaga ini punya wajah cukup lumayan dan body yang oké juga. Térus térang, saat itu juga aku térpikat oléh pénampilannya, aku jatuh hati pada “thé way shé look”.
Aku sibuk bérpikir dalam hati, bagaimana cara aku bérkénalan déngannya? Tapi mungkin mémang takdir cara itu 
datang déngan séndirinya, céwék itu tidak lama kémudian mémbuka juga intérnét dan dia duduk pérsis di bélakangku, jadi posisi kami saling mémunggungi satu sama lain. Aku sémpat ménoléh ké bélakang, dan kulihat dia mémbuka situs “mIRC”.
“Kayaknya dia mau chatting nih..,” pikirku.
Térnyata bénar, dia mau chatting, dan aku sémpat mélihat kalau dia paké “nick” yanthié. Langsung saja aku masuk ké “mIRC” juga, aku call dia, ééh dia ngé-réply.
Kami bérkénalan, dan sélama chatting itu dia sama sékali tidak sadar kalau Rio yang sédang ngobrol déngannya adalah cowok yang duduk tépat di bélakangnya, hihihihi. Pas séjam aku sélésai, aku bayar, aku pancing obrolan déngannya, aku tahu sékarang namanya “Yanti”, tépatnya “Iryanti”. Tampangnya bénar-bénar mémbuat aku bérgairah.
Aku lalu kéluar, pérgi ké béngkél ménémui si Rudy, mobilnya sédang dikérjakan. Aku pérgi ké télépon kartu di béngkél itu, kutélépon pénérangan “108”. Kutanyakan nomér télépon warnét itu, sétélah kudapat langsung kutélépon, dan aku minta bicara déngan Yanti.
“Siapa nih..?” suara Yanti di sébérang sana.
“Ini Rio, boléh saya kénal kamu..?” jawabku.
“Boléh aja, tapi kamu dapat nomér ini darimana..?” tanya Yanti lagi.
“Saya yang pérnah main di warnét kamu..,” jawabku.
Dan Oh My God..! Tahu tidak Yanti bilang apa..?
“Kamu yang tadi chatting di bélakang saya khan..?” katanya.
Mati aku, dia sudah tahu rupanya. Térlanjur malu aku méngaku saja, kalau itu bénar aku, dan aku térpésona oléh pénampilan dia, tapi aku malu untuk ménégur disana, jadi aku pakai cara ini saja.
Yanti tértawa, énak déh suaranya, kubéranikan saja ingin ménjémput dia, mau atau tidak. Katanya dia soré ini tidak bisa, karéna cowoknya (yang akhirnya kukétahui namanya Joé) ménjémput dia.
“Gimana kalau bésok lusa aja..?” katanya.
“Oké aja..” kataku.
Jadilah lusanya aku tidak prakték, jam 17.00 tépat aku sudah sampai di warnét Yanti. Kami térus jalan déh. Di jalan, dasar pikiran nakalku sudah di ubun-ubun, aku tanya sudah bérapa lama Yanti pacaran sama Joé, bérapa kali pacaran, térakhir aku juga méngaku sudah punya céwék, térus aku tanya mau tidak Yanti jadi céwékku? Yanti kagét.
“Jadi Yanti ngéduain Joé donk Yo..?” tanyanya.
“Iya sama Rio juga ngéduain céwék Rio..” jawabku sékénanya.
“Nakal kamu Yo..” kata Yanti sambil méncubit lénganku.
“Naaah.., kéna nih céwék..!” pikirku.
Kutangkap tangannya, kupégang kuat, kuhéntikan mobilku di dépan sébuah bangunan sépi dékat Pasaraya Manggarai, kutarik Yanti ké arahku, kucium bibirnya, Yanti méndorong tubuhku.
“Hhhmmmhh malu-malu kucing nih..” pikirku.
Térus kutarik tubuhnya sambil méngéluarkan kata-kata gombalku. Lama kélamaan Yanti tidak ménolak lagi, dibalasnya ciumanku, dijulurkannya lidahnya, digigitnya bibirku, kusédot lidahnya, nikmat sékali, urat syarafku térangsang. Kuraba pahanya, térus ké sélangkangannya, Yanti méndésah
“Jangan Rio..” desahnya.

Aku berhenti, kuhidupkan mesin mobil, kuarahkan mobil ke hotel di Jakarta Pusat, aku langsung parkir.

“Mau ngapain kita kesini Yo..?” tanya Yanti.

Aku tidak menjawab, kusuruh dia menunggu di mobil, aku masuk ke dalam, aku check in di kamar 104.

Setelah diantar ke kamar, kuhidupkan AC, lalu aku ke mobil.

“Yan, turun yuuk..!” kataku.

“Nggak tau ah, mau ngapain sih Rio..?” kata Yanti.

Lagi-lagi kukeluarkan jurus mautku, sampai akhirnya Yanti mau juga ikut masuk ke kamar. Di dalam kamar kubuka celana panjangku. Dengan hanya pakai handuk aku ke kamar mandi, saat aku keluar kulihat Yanti sedang nonton TV.

“Film apa sih Yan..?” tanyaku sambil duduk di sebelahnya.

“Sinetron..,” jawab Yanti pendek.

Kupandangi wajahnya, Yanti jengah juga dan bilang, “Ngapain sih ngeliatin gitu Yo..?”

“Kamu cantik..” rayuku.

“Rio pengen ciuman kayak tadi deh..” kataku.

Kutarik tubuhnya, Yanti diam saja, kuangkat dagunya, kupandangi lekat-lekat matanya, kucium lembut bibirnya, Yanti memejamkan matanya. Dibalasnya ciumanku, kujulurkan lidahku, Yanti membalasnya, kuhisap, Yanti membalasnya. Pikiranku benar-benar sudah dikuasai gairah memuncak, kuciumi lehernya, kujilati sepuasku.

“Aaacchh.., Riooo…” desahan Yanti membuatku tambah bernafsu.

Aku berdiri di samping tempat tidur sambil tidak lepas memandang wajahnya sedikitpun.

Kubuka bajuku, handuk, terakhir celana dalamku, sengaja tidak kupadamkan lampu, penisku langsung “tegak-melompat” keluar “sarangnya”. Kulihat Yanti terkesima, kuhampiri dia, kuraih tangannya, kuletakkan di atas penisku, kusuruh dia melakukan gerakan “mengocok”.

“Aaahhh nikmat sekali..” desahku.

15 menit Yanti melakukan itu, kulepaskan tangannya dari penisku, kutarik wajahnya, kuarahkan ke penisku. Mula-mula Yanti menolak, dengan sedikit paksaan mau juga dia. Masuklah penisku dalam mulut mungilnya. Digerakkannya maju-mundur berulang kali sampai basah kuyup penisku oleh ludahnya, kurasakan spermaku mau keluar, kutarik rambutnya.

“Stop Yanti..!” kataku.

Kini kubaringkan dia, kutelanjangi Yanti sampai sehelai benang pun tidak ada lagi di tubuhnya. Kupandangi tubuhnya, tampak di perut kirinya ada tahi lalat cukup besar. Kucium bibirnya, dagunya, turun ke lehernya, dadanya, perutnya, kuhisap pusar dan tahi lalatnya, Yanti menggelinjang geli. Kuteruskan ke selangkangannya, kumasukkan jari tengahku sambil aku terus mencium selangkangannya.

“Aaaccchhh Riiiooo niiikkkmaaatnyaaa sayaaanggg…” desah Yanti.

Yanti mengangkat pantatnya setinggi-tingginya, kurasakan basah vaginanya. Yanti telah orgasme rupanya. Kini aku menaiki tubuh Yanti, penisku pun sudah amat berdenyut mendambakan pelampiasan pula. Kuarahkan penisku ke vagina Yanti, kuturunkan perlahan pinggulku, tidak sedetikpun kulepaskan pandanganku dari mata Yanti. Kulihat Yanti menggigit bibirnya.

“Sakiiittt Riiiooo…” desahnya.

Kuhentikan sejenak, lalu kuteruskan lagi, Yanti mendesis lagi. Kulihat butiran air mata di sisi matanya.

“Sakit saayyyaangg..?” tanyaku.

“Iyyaaa Riiiooo, punya kamu besar sekali..” jawab Yanti meracau.

“Mana besar sama punya Joe..?” tanyaku.

“Besar punya kamu Riooo… sakit saaayyyaangghhh, perrriiihhh, tapiii niiikmaaatthh sekaliii..” rintih Yanti.

Akhirnya masuk semua penisku ke dalam vaginanya. Kutarik maju mundur, akibatnya sungguh luar biasa, Yanti menggeram, kedua kakinya menjepit pinggangku sekuatnya, giginya ditanamkan di bahuku, kurasakan pedih. Waaaahhh berdarah nih… Yanti orgasme kedua kalinya.

Kini kuganti posisiku, Yanti kusuruh menungging, dan dengan nafsu memuncak kutusukkan penisku ke anusnya, kurasakan otot “spchincter ani”-nya mencengkram erat penisku. Kugerakkan masuk-keluar penisku, kugenggam payudaranya, Yanti menggenggam tepi tempat tidur.

“Riiooo… saaayyyaanngghh… ciintaa… eeennnaaakkhhh… Riioooo.. Rioooo… nikmaaatthh sayaaaanggghh… terrruuussshhh cinnntaaaa…” erang Yanti terus menerus.

Aku benar-benar nikmat, “Yaaanntiii kuhamili kamuuuu… badan kamuuu enak bangeeettthh..” erangku juga.

10 menit kemudian aku tidak tahan lagi, penisku berdenyut kuat, kucengkram erat pinggul Yanti, kusemburkan sperma hangatku dalam vagina Yanti.

“Aaacchhh nikmat sekali…” desahku di telinganya.

Kami pun terkulai lemas. Setelah itu beberapa kali kami mengulanginya di hotel “xxx” dekat kantor Yanti. Sekarang Yanti telah menikah dengan Joe. Kami masih berhubungan lewat telepon. Semoga kamu baca kisah kita ini Yanti. Rio sayang kamu selalu.


from cerita sex indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar