Akhir-akhir ini banyak ditentang kekerasan dalam keluarga, khususnya tindak kekerasan suami terhadap isterinya. Akupun sebagai wanita semula juga setuju dengan penentangan itu. Tetapi pengalaman yang kujalani memberikan pandangan lain, aku bisa menerima bahkan amat menikmati kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadapku.
Aku ingin membagi pengalamanku ini berdasarkan kenyataan di lapangan, bahwa banyak wanita mengalami kekerasan dari suaminya dan mereka mengadakan penentangan tersebut, baik penentangan itu berupa tindakan untuk minta cerai maupun penentangan itu dilakukan secara psikologis saja, karena ia tidak berdaya. Penentangan, khususnya penentangan secara psikologis itu malah membuat si wanita menderita tanpa bisa berbuat apa-apa. Pengalamanku ini perlu kubagi, pertama karena ternyata di balik rasa sakit yang tak terperikan itu, ada rasa nikmat yang jauh lebih nikmat daripada hanya melayani suami secara “normal”. Kedua, ternyata banyak juga pasangan suami isteri yang mengalami masalah kelainan ini, baik si isteri maupun si suami tapi karena tidak memahami permasalahannya, mereka ambil jalan pintas untuk cerai.
Ceiteraku ini kuawali dengan pertanyaan yang kutujukan pada anda, khususnya pada sesama wanita. Pernahkah anda menginginkan setiap saat anda menangis menjerit-jerit kesakitan sambil meronta-ronta berkelojotan dgn tubuh berlumuran darah penuh luka? Sama dgn anda, akupun tak pernah menginginkan, bahkan memikirkan saja tak pernah. Tapi nasib membuatku setiap saat membiarkan tubuhku disiksa sampai aku hrs menjerit melolong-lolong kesakitan. Namun akhirnya aku bisa menerima hal itu, bahkan kini aku bisa menikmatinya, kini justru aku yg memintanya bila Ifan tak menyiksaku.
Aku benar-benar menjadi ketagihan untuk mengalami siksaan yang mendatangkan rasa sakit yang tak terperikan, sebab ternyata di balik rasa sakit yang amat sangat, bila sampai ke tahap tertentu ketahanan kita, justru akan kita rasakan kenikmatan yang jauh lebih hebat daripada kalau kita melakukannya dengan normal. Juga bagi suami akan mendatangkan rasa nikmat yang jauh lebih hebat saat tubuh si isteri mengejang keras menahan rasa sakit yang hebat, sebab pada saat itulah vagina si isteri akan menjepit kuat-kuat kemaluan si suami; dan tentu saja ini mendatangkan rasa nikmat yang luar biasa bagi suami.
Ketika aku berpacaran dgn Ifan, akupun tak pernah membayangkan akan mengalami nasib spt itu. Ifan penuh perhatian, amat menyayangiku dan selalu memanjakanku. Ia juga punya masa depan yg pasti sbg pengusaha muda yg sukses. Ia benar-benar pria idola gadis-gadis, ia amat sempurna tiada cacat sedikitpun, ia amat gagah dan tampan. Akupun hrs bersaing ketat dgn gadis yg lain utk mendapatkannya, karena itu aku amat bahagia bisa bersanding di pelaminan dgnnya.
Aku gemetar ketika hrs tidur berdua dgn Ifan seusai pesta pernikahandi di malam pertama, bagiku malam itu pertama kali aku tidur di samping pria. Tubuhku menggigil dan keringat membanjiri tubuhku ketika tangan Ifan mulai menyelinap di balik gaun tidurku dan dgn lembut meremas susuku. Ingin aku mencegah tangan itu meneruskan meremas-remas daging lembut di dadaku, tapi aku sadar bhw aku kini adalah isterinya. Aku pasrah saja ketika tangannya mulai membuka baju tidurku dan dgn pelan melepas satu persatu pakaianku hingga aku tergolek telanjang bulat di sisinya. Sebenarnya aku malu sekali ia melihat tubuhku yg telanjang, tapi aku menyadari bhw Ifan kini adalah suamiku, krn itu kubiarkan saja ketika bibirnya mulai mengulum puting susuku. Tubuhku bagaikan kena aliran listrik, panas dingin nggak karuan ketika lidahnya mulai menari-nari di susuku, menyebabkan rasa nikmat yg belum pernah kurasakan, apalagi ketika kemudian tangan Ifan mulai membelai-belai dan mengelus-elus kemaluanku dgn tetap mulutnya mengulum kedua susuku bergantian. Gairah mulai menggelora dalam tubuhku dan aku secara mulai menyambut cumbuan Ifan. Tak ada lagi rasa malu, gejolak dlm diriku membuatku lupa segalanya, kupagut dan kupeluk tubuh Ifan dgn gemas dan liar, dan baik mulut maupun tangan Ifanpun semakin liar menjelajahi bagian-bagian yg peka di tubuhku membuat gairahku semakin menggelora dan aku sudah menantikan saat-saat yg membahagiakan ketika Ifan mulai menindih tubuhku dan salah satu bagian tubuh Ifan mendesak dan menekan ingin menerobos tubuhku. Aku semakin liar dan ganas memagut dan memeluk Ifan, seolah-olah ingin semua tubuhnya kulumat dan kumasukkan ke tubuhku.
Tiba-tiba Ifan mengeluh lalu lemas terkulai di atas tubuhku. Nafsunya yg tadi menggelora membakar dirinya padam seketika meski ia tetap memelukku erat-erat. Aku yg menginginkan lebih banyak lagi darinya seketika ikut mendingin dan kembali spt semula. Ifan dgn lemas turun dari atas tubuhku lalu terpekur diam. Ifan mohon maaf atas perlakuannya pdku. Aku bisa memahami sepenuhnya bila ia masih mengingat Ida, karena itu aku belai-belai kepalanya dng penuh kasih.
Ternyata kejadian tsb tidak hanya sekali itu saja. Aku tetap amat bahagia mendampinginya, kecuali dlm satu hal, setiap dia mau melakukan fungsinya sbg suami pasti terhenti di tengah jalan.
from cerita sex indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar